Mewujudkan Akreditasi Unggul dengan Melahirkan Alumni Terbaik di Berbagai Bidang Keagamaan
PONTIANAK, SP - Membangun gedung yang megah merupakan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan tahun. Namun membangun budaya mutu yang melahirkan lulusan berkualitas, memperoleh akreditasi unggul, dan menghasilkan alumni yang mampu berkiprah di berbagai bidang merupakan proses panjang yang membutuhkan kepemimpinan visioner, konsistensi, serta kerja kolektif seluruh sivitas akademika.
Itulah jejak yang ditinggalkan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., selama memimpin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak pada dua periode, 2018-2022 dan 2022-2026. Di bawah kepemimpinannya, penguatan mutu akademik menjadi salah satu prioritas utama.
Transformasi yang dilakukan tidak hanya menyasar pembangunan fisik kampus, tetapi juga pembenahan sistem penjaminan mutu, peningkatan kualitas dosen, pembaruan kurikulum, digitalisasi layanan akademik, penguatan penelitian dan publikasi ilmiah, hingga peningkatan prestasi mahasiswa dan daya saing lulusan.
Seluruh upaya tersebut diarahkan pada satu tujuan besar, yakni mewujudkan IAIN Pontianak sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif terhadap perkembangan zaman, berdaya saing nasional maupun internasional, serta siap bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
Perjalanan menuju mutu unggul itu dibangun melalui penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), evaluasi berkelanjutan terhadap seluruh program studi, peningkatan akreditasi institusi dan program studi, serta penciptaan budaya akademik yang produktif.
Kepemimpinan Prof. Syarif juga ditandai dengan peningkatan jumlah dosen bergelar doktor dan guru besar, penguatan kompetensi tenaga kependidikan, peningkatan jumlah penelitian kompetitif, publikasi pada jurnal nasional terakreditasi maupun internasional bereputasi, serta perluasan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Hasilnya mulai terlihat. Berbagai program studi berhasil meningkatkan status akreditasinya, sistem tata kelola semakin baik, kualitas pembelajaran meningkat, dan kepercayaan masyarakat terhadap IAIN Pontianak terus bertambah setiap tahun.
Budaya Mutu Menjadi Fondasi
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Prof. Dr. Ali Hasmy, M.Si., mengatakan penguatan mutu merupakan agenda utama yang terus dikawal selama dua periode kepemimpinan Prof. Syarif.
"Beliau menanamkan bahwa mutu bukan hanya menjadi tanggung jawab Lembaga Penjaminan Mutu, tetapi menjadi budaya seluruh sivitas akademika. Karena itu seluruh unit, fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa bergerak dalam semangat yang sama untuk meningkatkan kualitas institusi."
Menurut Ali Hasmy, pembaruan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), digitalisasi layanan akademik, serta penguatan kerja sama nasional dan internasional menjadi instrumen penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
"Mahasiswa harus memperoleh pengalaman belajar terbaik. Kampus tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membangun karakter, kemampuan berpikir kritis, keterampilan riset, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja."
Ia menegaskan bahwa berbagai capaian akademik tersebut menjadi modal penting dalam proses transformasi IAIN Pontianak menuju UIN.

Tata Kelola yang Semakin Profesional
Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Cucu, M.Ag., menjelaskan bahwa peningkatan mutu akademik tidak dapat dipisahkan dari tata kelola kelembagaan yang profesional.
"Prof. Syarif memberikan perhatian besar terhadap pembenahan tata kelola. Sistem administrasi terus didigitalisasi, sarana prasarana diperkuat, perencanaan anggaran dilakukan secara lebih akuntabel, dan pelayanan kepada mahasiswa semakin efektif. Semua itu mendukung peningkatan kualitas akademik."
Menurutnya, lingkungan belajar yang nyaman menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan lulusan berkualitas.
Mahasiswa Menjadi Fokus Pengembangan
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ismail Ruslan, S.Ag., M.Si., mengatakan keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari akreditasi, tetapi juga dari kualitas lulusan yang dihasilkan.
"Prof. Syarif selalu menekankan bahwa mahasiswa merupakan investasi masa depan bangsa. Karena itu kampus terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkembang melalui organisasi, penelitian, kewirausahaan, kompetisi ilmiah, pengabdian masyarakat, hingga kegiatan internasional."
Menurutnya, berbagai prestasi mahasiswa pada tingkat regional, nasional maupun internasional menjadi indikator bahwa pembinaan kemahasiswaan berjalan semakin baik.
Penjaminan Mutu Berjalan Berkelanjutan
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., mengatakan keberhasilan meningkatkan mutu tidak terjadi secara instan.
"Budaya mutu dibangun melalui siklus penjaminan mutu yang berkelanjutan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian hingga peningkatan mutu dilakukan secara konsisten. Inilah yang menjadi kekuatan IAIN Pontianak."
Menurutnya, seluruh indikator akreditasi terus diperkuat, mulai dari tata pamong, sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, hingga luaran lulusan.
"Akreditasi bukan sekadar memperoleh nilai tinggi, tetapi bagaimana kampus mampu menjamin bahwa seluruh proses pendidikan menghasilkan lulusan yang kompeten dan dibutuhkan masyarakat."
Pascasarjana Perkuat SDM Akademik dan Kepemimpinan
Program Pascasarjana IAIN Pontianak menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi kelembagaan yang dibangun Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. Selama dua periode kepemimpinannya, pengembangan pendidikan jenjang magister diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, menghasilkan riset yang bermanfaat, serta melahirkan akademisi dan pemimpin yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan kemajuan peradaban Islam.
Penguatan mutu Pascasarjana dilakukan melalui pengembangan program studi, peningkatan kompetensi dosen, penguatan budaya akademik, peningkatan publikasi ilmiah, perluasan jejaring kerja sama nasional dan internasional, serta digitalisasi layanan akademik. Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing institusi sekaligus mempersiapkan transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN).
Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak, Prof. Dr. Zaenuddin, S.Ag., M.A.I., mengatakan kepemimpinan Prof. Syarif memberikan perhatian yang besar terhadap pengembangan pendidikan pascasarjana sebagai pusat lahirnya akademisi, peneliti, birokrat, dan pemimpin masa depan.
"Penguatan Pascasarjana menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu institusi. Selama kepemimpinan Prof. Syarif, pengembangan program studi, peningkatan kualitas dosen, kerja sama akademik, serta produktivitas penelitian terus mengalami kemajuan," ujar Zaenuddin.
Menurutnya, dukungan pimpinan institut mendorong Pascasarjana untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi melalui penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi, penyelenggaraan seminar dan konferensi akademik, serta kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga mitra di dalam maupun luar negeri.
Selain memperkuat kapasitas akademik, Pascasarjana juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, pemikiran kritis, metodologi penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga mampu menjadi agen perubahan di berbagai bidang profesi.
"Prof. Syarif selalu mendorong agar Pascasarjana tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan riset, kepemimpinan, dan kepekaan sosial. Karena itu, penguatan kualitas dosen, tata kelola akademik, serta jejaring kerja sama terus menjadi perhatian selama beliau memimpin IAIN Pontianak," katanya.
Zaenuddin menambahkan, kiprah alumni Pascasarjana menjadi salah satu indikator keberhasilan transformasi tersebut. Saat ini, lulusan Pascasarjana IAIN Pontianak telah berkiprah di berbagai sektor sebagai dosen, guru besar, kepala sekolah dan kepala madrasah, pejabat pemerintah, hakim, aparatur sipil negara, penyuluh agama, peneliti, pimpinan lembaga pendidikan, praktisi, hingga tokoh masyarakat yang berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.
"Transformasi menuju Universitas Islam Negeri akan semakin memperkuat peran Pascasarjana sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Kami berharap Pascasarjana IAIN Pontianak terus melahirkan akademisi, peneliti, birokrat, dan pemimpin yang berwawasan global, berakhlak mulia, serta mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan," tutup Zaenuddin.

FTIK Melahirkan Guru Profesional dan Berdaya Saing
Sebagai fakultas dengan jumlah mahasiswa terbesar di IAIN Pontianak, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) memegang peran strategis dalam mencetak tenaga pendidik yang profesional, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang. Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., FTIK terus melakukan transformasi melalui penguatan mutu akademik, inovasi pembelajaran, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Berbagai langkah dilakukan, mulai dari pembaruan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), digitalisasi proses pembelajaran, penguatan praktik pengalaman lapangan (PPL), peningkatan kapasitas dosen, hingga perluasan kemitraan dengan sekolah, madrasah, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga pendidikan. Transformasi tersebut bertujuan menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi pedagogik, tetapi juga memiliki karakter, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan.
Dekan FTIK, Prof. Dr. H. Hermansyah, M.Ag., mengatakan FTIK merupakan salah satu ujung tombak IAIN Pontianak dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik yang profesional dan berkualitas di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
"Penguatan kurikulum, praktik lapangan, peningkatan kompetensi dosen, serta kemitraan dengan sekolah dan madrasah terus dilakukan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan," ujar Hermansyah.
Menurutnya, mahasiswa FTIK tidak hanya dibekali dengan penguasaan teori pendidikan dan keilmuan sesuai program studinya, tetapi juga didorong mengembangkan kemampuan mengajar, literasi digital, penelitian tindakan kelas, inovasi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, serta penguatan karakter sebagai pendidik yang berakhlak mulia.
Hermansyah menilai dukungan penuh Rektor IAIN Pontianak selama kepemimpinan Prof. Syarif telah mempercepat kemajuan FTIK melalui penguatan sarana pembelajaran, digitalisasi layanan akademik, peningkatan kualifikasi dosen, pengembangan penelitian, serta perluasan kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan.
"Prof. Syarif memberikan perhatian yang besar terhadap peningkatan kualitas akademik di FTIK. Kami didorong untuk terus berinovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan publikasi ilmiah, serta membangun jejaring kemitraan yang lebih luas sehingga kualitas lulusan terus meningkat dan mampu bersaing di dunia kerja," katanya.
Ia menambahkan, transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN) menjadi momentum penting untuk semakin memperkuat peran FTIK sebagai pusat pengembangan ilmu pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan.
"Kami berharap FTIK terus melahirkan guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, peneliti pendidikan, dan tenaga kependidikan yang profesional, inovatif, serta mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Lulusan FTIK harus menjadi teladan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, moderasi beragama, dan komitmen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," tutup Hermansyah.
Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Perkuat Profesionalisme Hukum Islam
Transformasi IAIN Pontianak pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., turut memperkuat Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (FSIH) sebagai pusat pengembangan keilmuan hukum Islam yang responsif terhadap dinamika hukum nasional dan kebutuhan masyarakat. Penguatan mutu pendidikan diarahkan tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga pada peningkatan kompetensi praktik dan profesionalisme lulusan.
Melalui pembaruan kurikulum, penguatan laboratorium praktik, peningkatan kapasitas dosen, pengembangan budaya riset, serta perluasan kerja sama dengan berbagai lembaga penegak hukum dan instansi pemerintah, FSIH terus menyiapkan lulusan yang memiliki integritas, kompetensi, dan daya saing tinggi.
Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Dr. Firdaus Achmad, M.Hum., mengatakan peningkatan mutu pendidikan hukum Islam dilakukan melalui pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan pengalaman praktik di lapangan.
"Kami terus memperkuat kompetensi mahasiswa melalui praktik peradilan semu, klinik hukum, penelitian, hingga kerja sama dengan lembaga peradilan dan instansi pemerintah sehingga lulusan memiliki daya saing tinggi," ujar Firdaus Achmad.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali penguasaan hukum Islam, hukum positif, hukum keluarga, hukum ekonomi syariah, dan perundang-undangan, tetapi juga dilatih memiliki kemampuan analisis hukum, penyelesaian sengketa, penyusunan dokumen hukum, advokasi, mediasi, serta etika profesi yang menjadi kebutuhan dunia kerja saat ini.
Dukungan pimpinan institut selama kepemimpinan Prof. Syarif, lanjut Firdaus, telah memberikan ruang yang luas bagi fakultas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan sarana dan prasarana akademik, digitalisasi layanan pendidikan, penguatan penelitian, serta kolaborasi dengan Pengadilan Agama, Pengadilan Negeri, Mahkamah Agung, Kantor Wilayah Kementerian Agama, pemerintah daerah, lembaga bantuan hukum, dan berbagai institusi mitra lainnya.
"Prof. Syarif selalu memberikan dukungan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia. Kami didorong untuk terus berinovasi, memperkuat budaya akademik, meningkatkan publikasi ilmiah, dan memperluas jejaring kerja sama agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN) akan semakin memperluas ruang pengembangan keilmuan hukum Islam melalui pendekatan multidisipliner, pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi lintas sektor.
"Harapan kami, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum terus menjadi pusat lahirnya hakim, akademisi, advokat, mediator, penyuluh hukum, aparatur sipil negara, peneliti, dan praktisi hukum Islam yang profesional, berintegritas, menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sistem hukum nasional dan kemaslahatan umat," tutup Firdaus Achmad.

Fakultas Ushuluddin dan Adab Perkuat Kajian Keislaman
Transformasi IAIN Pontianak di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. tidak hanya diarahkan pada penguatan tata kelola dan pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas akademik di setiap fakultas. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) sebagai pusat kajian keislaman yang mengintegrasikan khazanah keilmuan Islam klasik dengan pendekatan akademik modern.
Penguatan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), peningkatan kapasitas dosen, pengembangan budaya riset, publikasi ilmiah, digitalisasi pembelajaran, serta perluasan jejaring akademik menjadi bagian dari strategi fakultas dalam mencetak lulusan yang unggul, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dekan FUSHA, Prof. Dr. Sahri, M.A., mengatakan kualitas lulusan dibangun melalui keseimbangan antara penguasaan ilmu-ilmu keislaman klasik dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan responsif terhadap berbagai persoalan kontemporer.
"Prof. Syarif selalu mendorong agar fakultas terus melakukan inovasi pembelajaran, memperkuat penelitian, dan meningkatkan publikasi ilmiah sehingga lulusan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman," ujar Sahri.
Menurutnya, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab tidak hanya dibekali penguasaan disiplin ilmu tafsir, hadis, akidah, filsafat Islam, studi agama-agama, serta kajian adab dan peradaban Islam, tetapi juga didorong mengembangkan kemampuan riset, literasi digital, penulisan karya ilmiah, serta komunikasi akademik yang mampu menjembatani pemikiran Islam dengan dinamika masyarakat modern.
Dukungan pimpinan institut selama kepemimpinan Prof. Syarif, lanjut Sahri, memberikan ruang yang luas bagi fakultas untuk meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi melalui pengembangan laboratorium akademik, peningkatan kompetensi dosen, kerja sama penelitian, seminar ilmiah, konferensi nasional maupun internasional, serta publikasi pada jurnal bereputasi.
"Kepemimpinan Prof. Syarif memberikan semangat kepada seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan mutu. Kami didorong membangun budaya akademik yang produktif, memperkuat kolaborasi penelitian, dan melahirkan karya-karya ilmiah yang memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu keislaman maupun penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan," katanya.
Ia menambahkan, transformasi menuju Universitas Islam Negeri (UIN) akan semakin memperluas ruang pengembangan keilmuan Fakultas Ushuluddin dan Adab melalui pendekatan multidisipliner dan kolaboratif, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kedalaman intelektual, tetapi juga berkarakter moderat, toleran, dan berwawasan global.
"Harapan kami, Fakultas Ushuluddin dan Adab terus menjadi pusat lahirnya cendekiawan muslim, akademisi, peneliti, pemikir, dan tokoh masyarakat yang mampu menjaga khazanah keilmuan Islam sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan kehidupan berbangsa, bernegara, dan peradaban di era modern," tutup Sahri.
FEBI Siapkan SDM Ekonomi Syariah Berdaya Saing
Perkembangan industri halal dan ekonomi syariah yang semakin pesat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi Islam untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.
Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak terus memperkuat kualitas pendidikan agar mampu menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri.
Penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi dosen, pengembangan laboratorium, digitalisasi pembelajaran, serta perluasan jejaring kerja sama menjadi bagian dari strategi fakultas dalam mencetak lulusan yang profesional, adaptif, dan memiliki integritas.
Dekan FEBI, Prof. Dr. Samsul Hidayat, S.Ag., M.A., mengatakan perkembangan ekonomi syariah nasional membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktik dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika industri.
"Kami memperkuat kompetensi mahasiswa melalui kolaborasi dengan dunia usaha, perbankan syariah, lembaga keuangan, koperasi syariah, pelaku UMKM, serta berbagai program magang sehingga lulusan siap memasuki dunia kerja. Mahasiswa juga didorong memiliki kemampuan kewirausahaan, literasi keuangan syariah, dan penguasaan teknologi digital sebagai bekal menghadapi persaingan global," ujarnya.
Menurut Samsul Hidayat, dukungan pimpinan IAIN Pontianak selama kepemimpinan Prof. Syarif menjadi faktor penting dalam percepatan pengembangan FEBI. Berbagai fasilitas pembelajaran terus ditingkatkan, mulai dari penguatan laboratorium ekonomi dan perbankan syariah, peningkatan kapasitas penelitian dosen dan mahasiswa, hingga perluasan kerja sama dengan industri, lembaga keuangan syariah, pemerintah, dan dunia usaha.
"Dukungan pimpinan kampus terhadap pengembangan laboratorium, riset, digitalisasi layanan akademik, serta kerja sama dengan berbagai mitra strategis telah meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih aplikatif sehingga mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang," katanya.
Ia menambahkan, transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN) akan semakin memperkuat posisi FEBI sebagai pusat pengembangan ekonomi dan bisnis Islam di Kalimantan Barat. Melalui penguatan tridarma perguruan tinggi, inovasi riset, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, FEBI diharapkan mampu melahirkan lulusan yang menjadi motor penggerak ekonomi syariah di tingkat regional maupun nasional.
"Kami berharap FEBI terus menjadi kawah candradimuka lahirnya ekonom, akademisi, peneliti, praktisi perbankan syariah, auditor halal, konsultan bisnis, dan wirausahawan muslim yang profesional, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi umat dan bangsa," tutup Samsul Hidayat.
FDKI Lahirkan SDM Komunikasi dan Dakwah
Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak pada era kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. turut memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI). Fakultas ini tidak hanya memperkuat kajian keislaman, tetapi juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan masyarakat digital.
Dekan FDKI, Dr. Yusriadi, S.Ag., M.A., mengatakan pendidikan dakwah saat ini harus mampu menjawab tantangan zaman. Dakwah tidak lagi hanya dilakukan melalui mimbar atau majelis taklim, tetapi juga melalui berbagai platform digital yang menjadi ruang interaksi masyarakat modern.
"Mahasiswa dakwah saat ini tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus menguasai komunikasi digital, jurnalistik, penyiaran, media sosial, dan teknologi informasi agar mampu menyampaikan dakwah secara efektif kepada masyarakat," ujar Yusriadi.
Menurutnya, transformasi yang dilakukan selama kepemimpinan Prof. Syarif mendorong FDKI untuk terus melakukan pembaruan kurikulum, meningkatkan kompetensi dosen, memperkuat praktik laboratorium, serta memperluas kerja sama dengan berbagai media massa, lembaga penyiaran, instansi pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan.
Penguatan tersebut bertujuan agar lulusan FDKI tidak hanya memiliki kompetensi sebagai dai dan penyuluh agama, tetapi juga mampu berkarier sebagai jurnalis, praktisi komunikasi, humas, content creator, penyiar, peneliti, hingga konsultan komunikasi publik yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam yang moderat.
Yusriadi menilai dukungan pimpinan institut terhadap pengembangan sarana pembelajaran, digitalisasi layanan akademik, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di FDKI.
"Prof. Syarif memberikan ruang yang luas bagi setiap fakultas untuk berinovasi. Kami didorong membangun budaya akademik yang adaptif, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi profesional sekaligus karakter keislaman yang kuat. Hal ini menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan era digital," katanya.
Ia menambahkan, transformasi menuju Universitas Islam Negeri (UIN) akan semakin membuka peluang bagi pengembangan ilmu komunikasi dan dakwah yang lebih integratif, kolaboratif, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat lokal, nasional, maupun global.
"Harapan kami, FDKI terus menjadi pusat lahirnya sumber daya manusia yang tidak hanya cakap berdakwah, tetapi juga mampu menjadi komunikator publik, agen perubahan sosial, serta penggerak moderasi beragama melalui pemanfaatan teknologi informasi dan media digital secara bijaksana," tutup Yusriadi.
Alumni Menjadi Ukuran Keberhasilan
Bagi Prof. Syarif, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak berhenti pada capaian akreditasi. Ukuran sesungguhnya adalah bagaimana lulusan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Selama dua periode kepemimpinannya, ribuan alumni IAIN Pontianak telah mengabdikan diri sebagai guru, dosen, kepala sekolah, kepala madrasah, hakim Pengadilan Agama, aparatur sipil negara, penyuluh agama, pegawai Kementerian Agama, praktisi ekonomi syariah, perbankan syariah, wirausahawan, tokoh masyarakat, hingga pemimpin di berbagai lembaga pemerintah maupun swasta.
Kiprah alumni yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat maupun berbagai daerah di Indonesia menjadi cerminan keberhasilan sistem pendidikan yang dibangun IAIN Pontianak. Peningkatan kualitas lulusan tersebut berjalan seiring dengan penguatan tata kelola kelembagaan, budaya akademik, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta jejaring kerja sama nasional dan internasional yang terus berkembang.
Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) IAIN Pontianak, Sukiryanto, menilai transformasi yang dilakukan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. telah memberikan dampak nyata terhadap kualitas lulusan sekaligus memperkuat daya saing alumni di berbagai bidang pengabdian.
"Selama kepemimpinan Prof. Syarif, kami menyaksikan perubahan yang sangat signifikan. Tidak hanya pembangunan fisik kampus dan peningkatan akreditasi, tetapi juga kualitas alumninya semakin diperhitungkan. Banyak alumni IAIN Pontianak kini dipercaya mengisi berbagai posisi strategis di instansi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai sektor profesional lainnya. Hal itu menjadi bukti bahwa proses pendidikan yang dibangun di IAIN Pontianak telah berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas," ujar Sukiryanto.
Menurutnya, kemajuan kampus juga diikuti dengan semakin kuatnya hubungan antara almamater dan para alumni melalui berbagai kegiatan akademik, pengembangan jejaring, serta kolaborasi dalam pengabdian kepada masyarakat.
"Kepemimpinan Prof. Syarif telah membawa IAIN Pontianak tumbuh menjadi perguruan tinggi yang semakin dipercaya masyarakat. Kami para alumni merasakan bahwa kualitas lulusan terus meningkat dan memiliki daya saing yang lebih baik. Ini merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh masyarakat, daerah, dan bangsa," katanya.
Sukiryanto menegaskan, ILUNI IAIN Pontianak memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater sekaligus mendukung keberlanjutan transformasi kelembagaan yang telah dibangun.
"Transformasi menuju Universitas Islam Negeri bukan sekadar perubahan nama atau status kelembagaan, tetapi merupakan peningkatan kualitas secara menyeluruh. Kami di ILUNI IAIN Pontianak siap menjadi mitra strategis kampus melalui kolaborasi, pengabdian, serta kontribusi nyata dalam mendukung kemajuan IAIN Pontianak menuju UIN yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Semakin maju kampus ini, semakin besar pula manfaat yang dapat diberikan para alumninya bagi pembangunan daerah, bangsa, dan umat," tegasnya.
Transformasi mutu yang dibangun Prof. Syarif selama delapan tahun kepemimpinannya menjadi fondasi yang kokoh bagi IAIN Pontianak untuk melangkah menuju Universitas Islam Negeri (UIN). Perubahan tersebut bukan semata mengejar peningkatan status kelembagaan, melainkan membangun perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, berdaya saing global, serta mampu melahirkan alumni yang berintegritas, profesional, moderat, dan senantiasa memberikan manfaat nyata bagi bangsa, negara, serta peradaban.
Jejak Kepemimpinan yang Menjadi Warisan
Setiap pemimpin meninggalkan jejak. Ada yang hanya tercatat dalam arsip, ada pula yang hidup dalam perubahan yang dirasakan oleh banyak orang. Jejak kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., di IAIN Pontianak termasuk dalam kategori yang kedua.
Selama dua periode memimpin, berbagai transformasi dilakukan secara bertahap namun berkesinambungan. Penguatan tata kelola berbasis digital, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan sarana dan prasarana kampus, penguatan budaya akademik, pengembangan Ma'had Al-Jami'ah, pengarusutamaan moderasi beragama, perluasan kerja sama nasional dan internasional, hingga peningkatan mutu kelembagaan menjadi rangkaian ikhtiar yang saling menguatkan.
Perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan wajah baru bagi IAIN Pontianak sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, tetapi juga membentuk ekosistem akademik yang lebih modern, adaptif, inklusif, dan berorientasi pada mutu. Berbagai capaian akreditasi, peningkatan publikasi ilmiah, penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi indikator bahwa transformasi yang dibangun berjalan pada jalur yang tepat.
Namun, bagi Prof. Syarif, keberhasilan perguruan tinggi tidak semata diukur dari gedung yang berdiri megah, sistem yang semakin modern, ataupun sertifikat akreditasi yang diraih. Keberhasilan sesungguhnya tercermin dari alumni yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat, menjadi teladan dalam profesinya, serta menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan di mana pun mereka mengabdi.
Ribuan alumni IAIN Pontianak kini mengemban amanah sebagai pendidik, dosen, hakim Pengadilan Agama, aparatur sipil negara, penyuluh agama, pegawai Kementerian Agama, praktisi ekonomi dan perbankan syariah, wirausahawan, pemimpin organisasi, hingga tokoh masyarakat. Mereka menjadi representasi nyata dari proses pendidikan yang dibangun dengan komitmen terhadap kualitas, integritas, dan moderasi.
Perjalanan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Pontianak menjadi fase berikutnya dari transformasi tersebut. Status baru bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk memperluas peran perguruan tinggi dalam melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia yang unggul.
Warisan kepemimpinan Prof. Syarif bukan hanya berupa bangunan fisik, kebijakan, atau berbagai capaian kelembagaan. Warisan itu juga hadir dalam budaya kerja yang profesional, tata kelola yang akuntabel, semangat moderasi beragama, jejaring kemitraan yang luas, serta keyakinan bahwa perguruan tinggi Islam harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa transformasi IAIN Pontianak bukanlah hasil kerja satu hari atau satu kebijakan. Ia lahir dari kepemimpinan yang konsisten, visi yang jauh ke depan, kerja kolektif seluruh sivitas akademika, serta dukungan para alumni dan masyarakat.
Jejak itu kini telah menjadi fondasi. Fondasi bagi lahirnya UIN Pontianak yang unggul, berdaya saing global, berakar pada nilai-nilai Islam yang moderat, serta terus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mengabdi untuk bangsa, negara, dan peradaban. (aep mulyanto)